Pages

Monday, January 23, 2017

Day 6 KF Writing Challenge: Kebanggaan yang Diremehkan

Pertanyaan yang satu ini beratnya kebangetan. Ini semacam menggali kenangan kelam yang tak ingin diingat. 

Siapa juga yang senang ketika apa yang bangga-banggakan justru diremehkan oleh orang lain? 

Ketika dia berusaha sangat keras melakukan apa yang menjadi sumber kepercayaan dirinya namun orang lain menganggap hal itu sebagai sesuatu yang receh dan nggak banget, siapa yang tak sakit hati jika diperlakukan demikian?

*

Kita nggak pernah tahu seberapa kuat hati seseorang dalam menghadapi rasa sakit. Entah itu sakit karena perkataan, atau perbuatan fisik, atau gabungan keduanya. Terkhusus yang berhubungan dengan kata saja ada istilah "mulutmu, harimaumu". Apa yang terlontar dari situ bisa jadi dapat menyakiti, maka harus berhati-hati saat bicara.

Karena apa yang kita anggap demi kebaikan, belum tentu akan dianggap baik oleh orang lain.

*

Jadi, kebanggaan apa yang ada diri saya yang pernah dianggap remeh oleh orang lain?

Jawabannya ....

Biar saya simpan untuk diri saya sendiri.

Sunday, January 22, 2017

Day 5 KF Writing Challenge: Tiga Film yang Berkesan

Yak, tantangan hari kelima ngebahas film.

Rasanya pengen protes ke momon. Gemes! Kalo ditanya film sebenernya agak susah, karena saya lebih banyak ngikutin serial yang episodenya banyak itu—terutama korea—dibandingkan film yang sekali habis—walaupun ada film yang dibuat sekuel beberapa tahun kemudian. *demo*

*

Jadi, film yang berkesan yaa.

1. Harry Potter (all series)
Dia.harus.menduduki.peringkat.pertama.wajib!
Jadi, Harry Potter ini—baik buku maupun filmnya—adalah salah satu yang berperan besar dalam menumbuhkan rasa cinta saya pada baca buku tebal yang isinya tulisan semua, serta mempertajam daya khayal alay saya untuk menulis. HAHAHAHAHA.
Saya pertama kali baca Harry Potter saat kelas 3 SD—Harry Potter and The Chamber of The Secrets dan juga Harry Potter and The Prisoner of Azkaban. Sebelum itu, bacaan saya berputar di majalah Bobo, komik donal bebek, dan beberapa novela bergambar. Ah, buku cerita rakyat juga kesukaan saya. Tapi, Harry Potter itu beda. Duaratusan dan tigaratusan halaman dibaca oleh anak kelas 3 SD tanpa bosan dan malah jadi jatuh cinta, itu kereeeen! *muji diri sendiri* kemudian nonton filmnya, ketika Daniel Radcliffe kecil sangatsangatsangat imut dan mengemaskan dengan kacamata bulatnya. Juga persahabatan manisnya dengan Ron dan Hermione. Mereka bertiga penguat pondasi saya dalam memiliki hobi membaca dan menulis.
Ah, tulisan saya yang mahaalay itu sebenarnya fanfic. Jadi, di cerita yang saya tulis, Harry Potter itu punya kembaran, namanya Serly Potter. Dalam khayalan saya, ketika difilmkan, Serly Potter itu diperankan oleh SAYA! HAHAHAHAHA MAAF YAA SAYA CUMA ANAK SD YANG PENUH IMAJINASI!

2. Heart is.... 2
Film Taiwan, saya lupa film tahun berapa. 2012an kalo nggak salah. Film dengan tema keluarga dan pertemanan selalu menjadi topik yanh sensitif buat saya, apalagi kalau jalan ceritanya menyayat hati dan akting para artisnya mendukung. Airmata bisa nggak berhenti sepanjang film.
Dan itulah yang saya lakukan sepanjang menonton film ini: menangis.
Yang membuat film ini berkesan yaa karena saya menangisnya di siang hari, saat nonton film ini di kosan saya bersama dengan teman-teman kuliah yang kam*pret. Iya, kam*pret! Mereka—saya lupa, dari delapan teman kelas yang dekat, berapa orang yang hari itu nonton bareng di kosan saya, sepertinya 5-6 orang, deh *mikir*—bukannya pukpuk saya yang lagi terharu banget sama filmnya, atau minimal yaa diem aja deh, nonton dengan khusyuk. Lah, yang mereka lakukan malah ngetawain saya, bahkan sampai merekam saya yang masih saja menangis tersedu-sedu. Saya tetep fokus nonton diselingi beberapa omelan untuk mereka—apalagi filmnya lagi klimaks! ITU KAN NYEBELIN, YA! MAKANYA BERKESAN! *emosi*

3. First Love (Crazy Little Thing Called Love)
Tau dong, film Thailand yang dibintangi oleh Kanda Mario Maurer. Siapa yang nggak baper setelah nonton film ini, gelut yok! Film ini pesan moralnya kuat. Cinta yang baik adalah cinta yang sabar. Cinta yang baik adalah cinta mampu memotivasi diri untuk menjadi seseorang yang lebih dan lebih baik lagi. Cinta yang baik nggak memandang fisik sebagai alasan utama untuk jatuh cinta, melainkan sikap dan ketulusan hati. Cinta yang baik itu..... Saya ngomongin apa, sih, sebenernya? *tuh kan baper*

Nah, itu dia tiga film yang berkesan bagi saya. Sepuluh, sih, kalau Harry Potter diitung satu-satu HAHAHAHAHAHA BHAY~~

Saturday, January 21, 2017

Day 4 KF Writing Challenge: Pertemuan Pertama dengan Dia

Sejujurnya, begitu membaca list tantangan #10daysKF writing challenge ini, saya agak galau sama poin nomor empat sebenarnya galau karena semua poin, sih. Si dia siapa, coba? Status saya single. Hati juga single, alias nggak lagi menggebet siapa-siapa. Kalau nulisnya tentang masa lalu lagi, nanti dikomentarin lagi seperti tantangan hari pertama. Padahal itu kriteria mengacu pada Ayahanda, please deh. Kalian itu yang nggak move on, gaes! *nyolot*

*

Akhirnya, setelah berpikir sekian lama kira-kira lima menit setelah memposting tulisan hari ketiga tadi, saya sudah memutuskan akan bercerita tentang siapa. Karena tidak boleh menyebutkan nama, maka yaa saya langsung saja bercerita. Walau rasanya, akan ada sangat banyak orang yang bisa menebak siapa "dia" yang saya ceritakan. Karena akan menjadi terlalu jelas. Tapi nggak papa. Biarkan tulisan ini sebagai salah satu cara untuk mengenangnya.

*

Saya anak pertama. Sampai sebelum 1 Desember 1995, saya terbiasa hidup sebagai anak tunggal. Begitu tahu akan ada "anak kecil" lain di rumah, perasaan saya waktu itu campur aduk. Senang. Menanti-nanti. 

Saya justru nggak terlalu ingat pertemuan pertama kami. Yang saya ingat adalah hari-hari setelahnya. Sepanjang yang dapat ingatan saya simpan, "awalnya" lumayan menyenangkan. Ada teman main. Pernah ada kejadian. Seingat saya, saya ingin main petak umpet. Dia yang duduk di baby walker, saya ajak ke kamar tidur orang tua. Kemudian, pintu kamar saya kunci. Kami masih ketawa-tawa. Saya senang sama permainan ini. Nggak lama, dia mulai merengek nangis. Saya coba buka kunci pintunya. Susah. Akhirnya orang tua saya membuat lubang di ventilasi, menjulurkan plastik yang diikat tali, meminta saya untuk memasukkan kunci kamar ke dalam plastik tersebut. Saya menurut. Pintu pun bisa terbuka. Saya kena marah, dia dapat pelukan.

Mungkin sejak saat itu saya mengenal kata cemburu.

*

Kehidupan kami sangat penuh drama. Kami bukan pasangan yang akur. Susah untuk meletakkan kami dalam satu ruangan yang sama tanpa ada setruman-setruman nyolot. Perkara siapa yang harus meletakkan piring di meja mana saja bisa bikin airmata berlinang. Atau masalah bebersih. Berhubung dia anaknya rapi dan saya kebalikannya. 

Ada banyak hal kecil yang bisa bikin saya sebal. Masalah klasik setiap anak perempuan: baju dan boneka. Boneka saya sering diklaim miliknya. Baju saya sering dipakai seenaknya. Kalau saya yang berlaku demikian, dia ngambek. Lah. Dunia seperti nggak adil saja.

*

Hidup kami nggak sepenuhnya hanya berbicara tentang sebal dan tangis amarah, kok. Kalau sedang akrab, yaa kami seperti pasangan lainnya. Saya pernah ajak dia lomba makan nasi cepet-cepetan, sampai meja makan belepotan. Tapi kami tertawa. Kami senang. Pernah juga saya ajak dia berkomplot agar saya punya alasan untuk mengganti popok adik kami yang masih bayi. Pernah juga dia berantem dengan teman sekolahnya, lantas si temannya itu saya teriaki habis-habisan sampai nangis dan saya merasa keren.

Setelah makin besar dan akhirnya sama-sama menjadi perantau, hubungan kami lumayan baik. Setruman-setruman amarah banyak berkurang, walau ketika sudah bersama orang tua perang lagi. Yaa mungkin itu cara kami untuk cari perhatian. Bisa makan enak bareng, nginep-nginepan, walau kami bukan tipe yang banyak bicara atau curhat mengenai masalah hati. Saya suka meminta pertolongannya untuk membungkus kado. Segala yang berhubungan dengan kerajian tangan dan kesenian, saya serahkan padanya. Bahkan, ketika tahun lalu saya sakit, dia pernah berinisiatif membuat kupu-kupu dari origami dan menempelkannya di dinding kosan saya. Itu manis, dan saya nggak bisa melakukan hal yang seperti itu—bahkan ketika dia sakit.

*

Tahun baru 2017 ini, dia sudah pergi. Duluan menghadap Tuhan. Ketika saya belum bisa mengekspresikan perasaan saya secara gamblang. Dan tak pernah ada lagi kesempatan untuk menyatakan bahwa dibalik semua drama yang kami jalani selama ini, saya sayang dia. Seperti kakak ke adik pada umumnya.

Iya, saya terlambat. Tak perlu ada alasan lain yang diungkapkan.

Day 3 KF Writing Challenge: Lima Hal yang Ingin Dicapai Tahun Ini

Halooo~~
Sudah hari ketiga (terlewati) ahahahahahahaha telat. Maafkan ya, fans. Kemarin agak kurang enak badan.

*

Saya lupa, entah sudah berapa tahun nggak rajin bikin resolusi. Semacam ada hal yang tertahan, sengaja ditahan sampai tahap "ingin lari saja".

Kan, jadi suram. Hahahahaha. Tapi yaa karena isi tulisannya memang agak serius, mengenai apa yang ingin dicapai tahun ini selain hal-hal yang udah pasti harus jadi nggak perlu disebutkan:

1. Kerja enak
Pengertian enak di sini adalah: lingkungan oke, kerjaan oke, gaji oke. Nggak muluk-muluk, kok. Kalau beberapa tahun lalu sempat idealis menolak untuk memiliki pekerjaan di ibukota negara tercinta, tahun ini akan saya paksakan diri untuk ke sana. Karna butuh gaji yang oke, nggak munafiklah yaa~~
2. Karya terbit
Keinginan ini salah satu yang sempat dimatikan, bahlan beberapa proyek diabaikan. maaf yaa. Biar semuanya menjadi masa lalu suram. 2017 ini, semua harus dihidupkan lagi. Gairah untuk menulis itu. Target berapa karya biar disimpan dalam hati saja.
3. Bertemu jodoh
Sudah cukup jelas, ya. Tahun ini seperempat abad. Sekian.
4. Menjadi pribadi yang lebih kuat untuk menghadapi apa pun
Ini PR besar. Untuk tidak lagi melarikan diri dari banyak hal. Untuk lebih optimis terhadap diri sendiri. Untuk lebih optimis terhadap penilaian orang terhadap diri.
5. Lebih dekat dengan Sang Pencipta
Sudah cukup jelas, ya, seperti poin nomor tiga. Poin nomor lima ini justru yang terpenting dibanding segala poin yang terlebih dahulu dituliskan.

Thursday, January 19, 2017

Day 2 KF Writing Challenge: Tiga Hal yang Bikin Histeris

Sebelum menjawab pertanyaan hari kedua, boleh klarifikasi tulisan hari pertama gak, sih? Eh? Nggak boleh? Yaudah. Biarin aja ambigu. *naon ath ceu*

*

Oke, tantangan hari kedua. Histeris.

Saya bingung harus menjawab tantangan ini dengan gaya yang seperti apa. Serius? Bercanda? Karena, yang namanya histeris itu ekspresi rasa. Histeris bahagia, histeris ketakutan, histeris marah, histeris sedih.

*

Dan akhirnya, saya putuskan untuk tidak bercerita tentang kesedihan yang bikin histeris. Sedih itu biar saya yang rasa sendiri. Kalo marah, bolehlah dibagi-bagi~~

HAHAHAHAHAHA

Jadi, saya berpikir keras tentang hal-hal yang bisa bikin saya histeris:

1. "Bertamu" ke wahana rumah hantu, nonton film hantu, dan lain-lain yang berhubungam dengan cerita makhluk ngambang itu
Rumah hantu itu, walaupun udah tau kalo itu semua hanya manusia dimakeupin serem, boneka didandanin serem, serta musik yang sengaja serem, takutnya tetap bikin histeris. Teriak-teriak brutal, bahkan pernah hampir nendang salah satu mas-mas kunti. Lah dia nyebelin, pake acara jalan mendekat. Saya kan ogah.
Kalau film horor yang hantu-hantuan gitu, saya pasti teriak. Apalagi kalau nontonnya di bioskop. Semacam ada kepuasan tersendiri ketika sudah berteriak dengan tidak tahu malunya, toh penonton lain juga lebih histeris hohohoho. Pokoknya saya bisa kalem kalau nonton film tentang pembunuham, tembak-tembakan, darah-darahan, selama nggak ada makhluk ngambang di filmnya. Sekian.

2. Wahana ekstrim di taman bermain
Saya penggemar beratnya roller coaster, tornado, halilintar, trus apalagi tuh namanya. Pokoknya wahana ekstrim di tempat-tempat semacam Dufan, Jungleland, Trans Studio. Pelepas stres yang paling ampuh!
Eh, nggak juga sih. Setelah nyampe rumah bakal langsung stres lagi karena harga tiket masuknya. Sekian.

3. LEE JONG HYUN, SANG GITARIS CNBLUE
Iya, kudu dicapslock. Lelaki yang gantengnya luar dalem dari segala sisi. Oppa yang nggak hanya memiliki wajah ganteng, tubuh ganteng, suaranya juga ganteng, gitarannya ganteng, cara bicaranya ganteng, tingkahnya ganteng, tipe postingan instagramnya ganteng, pokoknya ganteeeennnggggg!!!!
Satu-satunya bintang kokoreaan yang bikin histeris gila-gilaan sampe kebawa mimpi, Oppa yang hanya dengan melihat fotonya aja sudah bisa menerbitkan sebentuk senyum lebar di wajah.
Tuh, kan. Saya jadi histeris sendiri sekarang, kyaaaaa!!!

Oke, sekian. Mau ngepoin Aa Jonghyun dulu. Bhay~~