Pages

Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Sunday, August 9, 2015

Ini yang Terakhir

Ada yang hatinya sedang tidak tenang karena disapa oleh masalalu. Sapaan yang berisikan maaf, entah atas kesalahan seperti apa yang dulu pernah terjadi. Kira-kira, bagaimana caranya menanggapi sapaan tersebut?

Ia menanggapinya persis seperti lirik lagu yang terkenal beberapa tahun yang lalu, diam tanpa kata.

Kenapa harus diam? Kenapa harus tanpa kata, tanpa tanggapan?

Paham, kok. Luka hati tidak akan bisa sembuh secepat menyeduh mie gelas. Hanya saja, semuanya tetap mengherankan. Bukan menyelesaikan masalah, mana menambah daftar pertanyaan baru. Yang paling mendesak, yang paling membutuhkan jawaban adalah: sebenarnya mau kamu apa, sih?

Yang diketahui dengan sangat pasti, itu pula pertanyaan yang sangat ingin ia lontarkan.

*

Sebagai maslalu yang seharusnya berada di belakang, apa mauku?

Simpel.

Seperti yang kamu ketahui dengan pasti, aku bukanlah orang yang suka tiba-tiba saling menghilang dalam situasi hubungan antarmanusia yang buruk. Entah itu karena kesalahanku, atau kesalahan pihak seberang, jika itu demi memperbaiki hubungan yang sempat menegang, aku akan menundukkan kepala duluan. Demi membaiknya suatu hubungan silaturahmi. Kalaupun pada akhirnya harus putus kontak, itu hanya terjadi secara alami karena faktor jarak dan intensitas komunikasi, bukan karena masalah.

Itu pula yang, setelah bertahun-tahun aku membiarkan suasana dingin ini tetap beku, yang akhirnya membuatku menyapamu kembali. Meminta maaf darimu. Dengan ketetapan hati, bahwa ini yang terakhir. Bahwa setelah ini, bagaimanapun tanggapan darimu, I'm cool dan akan terus berjalan ke depan, tanpa menoleh.

Aku heran. Dua kali kamu melakukan hal yang sama. Dua tahun lalu, dan... Sekarang. Aku hanya ingin tahu: kenapa?

Aku selalu berharap...
Jika kamu ada masalah, datanglah padaku. Walau sebenarnya, akulah sumber masalahmu itu. Tapi tak mengapa. Cukup datang saja padaku, ceriatakan saja, dan kita cari pemecahannya bersama.

Pun jika kamu merasa lelah, bersandarlah padaku. Walau bisa jadi, kamu terlalu lelah menghadapi aku. Biarlah. Duduk saja di sampingku, rebahkan kepalamu di bahu, dan... Istirahatlah. Tenang saja, lah.

Atau jika kamu merasa kesepian, panggillah aku. Walau bisa jadi, akulah yang menjadi penyebab hatimu terasa kosong. Nggak masalah, tetap panggil aku. Dan kita akan tertawa bersama, membunuh sepi bersama, menghalau semua rasa yang tidak mengenakkan bersama-sama.

Dari dulu sampai sekarang, apapun bentuk hubungan kita, aku ingin menjadi orang yang seperti itu untukmu.

Ralat, bukan hanya untukmu. Untuk semua orang terdekatku. Untuk semua yang kusayangi. Kamu, memang termasuk di dalamnya.

Tapi, kalau kamu tidak ingin menerima uluran tanganku, dua kali, pula... Aku bisa apa?

Karena sikapmu seperti ini sudah diperkirakan, makanya kutetapkan sejak awal.

Ini yang terakhir. Akhir dari segalanya.

Silakan hidup tenang. Dan, tetap... Maaf lahir batin :)

Monday, December 30, 2013

Hanya Angan, Subuh Ini

Kata orang, kamu butuh untuk diselamatkan segera. Dan aku setuju.
Kata orang, kamu butuh cahaya yang menuntunmu untuk melihat bahwa "dunia tidak sekejam itu". Dan aku setuju.
Kata orang, kamu butuh alarm. Dan aku sangat setuju.
Hanya saja, sudah bukan masanya lagi kamu mendapatkan alarm yang hanya bisa berbunyi tanpa bisa dilihat. Kamu butuh alarm yang keberadaannya ada, yang tidak hanya mengingatkan namun juga menuntun, dan menyelamatkanmu. Aku sangat setuju, tentunya.
Karna akupun berpikir demikian.
Karna akupun membutuhkan apa yang juga kamu butuhkan.
Kamu pernah menjadi alarm yang sempurna dibalik semua ketidaksempurnaanmu. Aku juga cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa aku pernah melaksanakan tugasku menyelamatkanmu dengan baik.
Sayangnya, kita terlalu cepat lelah. Dengan alasan utama yang tak terbantahkan.
Pemecahannya tidak pernah bisa sesederhana itu. Di depan kita, yang terbentang hanyalah jalan buntu.
Satu-satunya cara hanyalah membuat jalur baru. Dan itu adalah langkah yang sangat besar untuk diambil. Yang membutuhkan keberanian yang sangat besar pula.
Yang kalau dari sisi aku, seberapapun inginnya aku membuka jalan itu, aku... Butuh alasan.
Aku sangat membutuhkan alasan yang logis dan dapat diterima.
Bukan, bukan tentang kamu. Namun tentang aku yang harus menaklukkan diriku sendiri.
Kalau jalan itu berhasil kubuka, apa kamu mau melewatinya bersamaku? Sehingga kita bisa saling mengingatkan, saling menuntun, saling menyelamatkan. Seperti waktu dulu.
Aksi heroik ini tidak akan pernah bisa berjalan jika hanya aku yang ingin, hanya aku yang melaksanakan. Jika hanya aku, aksi ini akan berujung sia-sia. Kamu tetap di sudut sana, dan aku bahkan akan terpuruk lebih dalam.
Jika hanya aku, sudah dapat dipastikan bahwa semuanya hanya akan berakhir pada jurang kehancuran yang lebih dalam.
Bagi kita.
Mungkin akan lebih baik bagi hal-hal yang tidak terhubung dengan kita.
Mungkin... Masih kemungkinan.

Apa tidak bisa semuanya berjalan baik-baik saja, begitupun dengan kita?

Friday, October 18, 2013

Tantanganku

Satusatunya ruang dimana kamu bisa melihat jauh ke dalam hatiku, walau dengan resiko diketahui oleh banyak orang adalah ini. Satusatunya orang bisa melihat aku dan kamu serta kejahatan hati kita bersama adalah ini. Disini.

Siapa yang bisa menyangka kamu setega itu?
Kebingungan ini, sungguh... Kebingungan yang tidak pada waktunya.
Ralat.
Sikapmu yang seperti ini justru sikap yang SANGAT bukan pada waktunya.
Kenapa tidak dari dulu saja kamu melakukannya?! Kenapa harus sekarang?! Di bulan ini, BULAN INI, setelah tiga tahun berselang... Kenapa?!?!

Ada beberapa kemungkinan yang sempat terpikirkan:
1. Kamu menarik perhatianku, berharap jika kamu melakukan ini, aku akan sesegera mungkin menghubungimu.
2. Kamu sengaja menghindar agar bisa mendamaikan hatimu sendiri.
3. Kamu sengaja menghilang untuk secara tidak langsung menyuruhku juga menghilangkanmu dari hatiku, yang kamu tau aku masih menyimpan berjuta harap disana.
4. Ada yang kamu sembunyikan. Entah apa.

Tapi bagaimana? Aku harus bagaimana? Bahkan semua kemungkinan itu tidak lantas membuatku tenang. Bahkan penegasanmu bertahuntahun yang lalu nggak lantas membuat hatiku yakin terhadap semua yang kamu katakan. Bahkan setelah semua kata-kata buruk, perlakuan tidak menyenangkan, dan lain sebagainya yang pernah kamu lakukan, hati ini masih memihakmu. Berbagai penyangkalan yang selama ini dilakukan sebagai usaha untuk mengenyahkanmu dari hati, ternyata nggak berhasil.

Benar. Bukannya aku tidak pernah berusaha mengusirmu dari hati. Berulang kali telah kulakukan. Namun, kamu selalu menemukan cara untuk kembali menyusup ke dalam sini. Entah lewat mimpi, atau saat berjejaring di dunia maya. Bahkan tanpa interaksi sama sekali denganmu pun, kamu berhasil membuatku gagal berpindah tempat. Berhasil membuatku diam di tempat. Pada akhirnya, aku hanya akan memandang ke arahmu, selalu ke arahmu.

Kamu sudah pernah mengetahuinya dengan jelas, karena di masalalu aku pernah mengungkapkannya berkali-kali. Secara gamblang.
"Aku akan bersikap sebagaimana kamu bersikap. Kalau kamu cuek, aku juga akan cuek. Kalau kamu lembut, aku juga akan melembut. Karna aku bersikap sebagaimana kamu bersikap."
 Selama tiga tahun ini, aku pernah beberapa kali melakukan hal yang sebaliknya. Aku pernah berusaha menyulam komunikasi baik denganmu, yang berakhir menyedihkan. Karna sepertinya kamu tetap dengan sikap gunung es yang selama ini kamu tunjukkan. Kamu akan tetap berdiri di puncak dengan angkuh. Matamu tak akan pernah tertoleh ke tempat dimana aku selalu menatapmu. Bahkan kamu menutup satu-satunya akses aku bisa melihatmu dengan jelas. Melihatmu lewat jendela lainnya tidaklah sejelas melihatmu melalui jendela utama.

Entahlah. Rasanya perlu untuk menegaskan kembali bahwa... Hati ini masih tetap hati yang sama dengan hati yang pernah membawamu keluar dari keterpurukan. Aku akan tetap penasaran setengah mati dengan sikapmu kali ini. Aku juga akan tetap bersikap sebagaimana kamu bersikap. Ya, kita akan selalu saling cuek. Kita akan selalu begini.

Sampai kamu yang memulai duluan.

Oh, ya... Tentu saja harus begitu. Karna aku telah memutuskan bahwa kali ini saatnya aku menunggu kamu datang. Apakah kabar baik atau kabar buruk, yang jelas kali ini harus kamu yang bertindak. Karena masaku untuk memulai segalanya duluan sudah usai, kamu tahu itu.

Oh, ya... Ini tantangan. Jika memang harus menegaskan segalanya, kemari. Ucapkan langsung di hadapanku. Di tempat dimana aku bisa langsung menatap kedua matamu, jemariku menyentuh kulitmu, hidungku menhirup aroma parfummu. Disini. Tepat di hadapanku. Kamu yang datang menghampiri, dan menegaskan segalanya.

Bagaimana?

Tuesday, October 2, 2012

"Radio Galau FM" : Seperti Hidup Saya yang Difilmkan dengan Sempurna






"Entah mana yang lebih sakit: kehilangan kamu atau digantungin terus sama kamu." (Velin)

“Sebelum ada kamu, hidup aku gelap. Tapi semenjak ada kamu, hidup aku berwarna. Dan aku nggak mau hidup aku gelap lagi.” (Velin)

“Apa aku segitu nggak pentingnya buat kamu? Apa aku cuma figuran yang numpang lewat gitu aja?” (Velin)


"Aku udah berusaha untuk perbaiki hubungan kita. Tapi percuma aku mati-matian kalo kamu inginnya terlepas." (Velin)



(By the way, postingan ini ga bermaksud untuk galau atau sejenisnya. Biasa aja, sih... Hanya ingin share pengalaman yang kebetulan "difilmkan". Selebihnya, tidak ada pengaruh kepada hati selain mengalami penerimaan yang sangat.... lapang. Karena sudah terlalu lama terlepas, dan sudah lama mengucapkan selamat tinggal serta terima kasih untuk semuanya. Gak galau lagi, dong yaaa...)

_____________________________

Oke, menonton film ini seperti menonton kisah hidup sendiri. Saya emang gak pernah tau dari sisi mantan seperti apa, dan akhirnya saya tau lewat film ini. Kurang lebih mungkin sikap mantan seperti itu, perasaannya seperti itu, rasa sayangnya pun di akhir-akhir juga seperti itu.

Melihat Velin (Natasha Rizki) seperti melihat diri saya sendiri. Bukan kecantikannya, toh saya jauh dari cantik. SIfatnya Velin itu kurang lebih sama seperti saya. Saya pernah menjadi pribadi yang ketika sudah memilikinya, saya ingin dia seutuhnya siap 24 jam untuk saya. Saya suka ngambek kalo mantan lebih perhatian dengan permainan di komputernya, lebih senang bermalam-mingguan dengan teman-temannya, dibandingkan untuk menghabiskan waktu dengan saya. Kondisi kami memang LDR, dan seharusnya justru karna LDR makanya kami harus sering menjaga komunikasi serta memanfaatkan setiap detik waktu yang ada untuk menikmati "kebersamaan".

Kasian saya, kasian juga Velin, ternyata mantan saya, dan juga Bara (Dimas Anggara) tidak menyukai sikap cewek yang seperti itu. Justru mereka merasa jengah dengan segala perhatian yang berlebihan, sikap manja yang keterlaluan, dan ujung-ujungnya... mereka memilih untuk perlahan menjauh. Tidak menanggapi apapun yang diutarakan pacarnya, tidak menggubris telpon sms lalala, benar-benar cuek dan tidak peduli lagi pada ceweknya. Sakit?

Andai lelaki tau bahwa bukan itu yang diperlukan oleh wanita. Kalian, wahai lelaki, bisa mengajak kami berbicara dengan baik-baik, tanpa membentak, namun tetap tegas, dan utarakanlah isi hati kalian. Kami mau berubah, kok, kami bisa berubah. Asal kalian memberi kami kesempatan.

Yang sayangnya, kesempatan itu tidak diberikan oleh Bara dan mantan saya, kepada kami.

Sekuat apapun kami mencoba merubah, hati mereka telah mengeras. Sudah membulatkan keputusan untuk pergi menjauh, daripada semakin merasa sakit hati. Lantas, apalagi yang bisa dilakukan oleh cewek-cewek seperti kami selain merelakan kalian pergi, wahai lelaki yang (pernah) dicintai dengan segenap rasa? 

Saya senang karna film ini memperlihatkan sudut pandang tidak hanya dari satu sisi, entah itu sisi pria saja atau sisi wanita saja, tapi dari keduanya. Sehingga penonton bisa mengetahui isi hati Bara, dan juga melihat Velin dengan penderiaan batinnya. Film ini juga dikemas dengan cara yang sangat santai, terkesan sangat masakini, dan tidak kaku. Sangat direkomendasikan kepada pasangan-pasangan yang mulai mengalami kejenuhan untuk menontonnya, dengan harapan setelah nonton mereka bisa saling introspeksi diri dan meng-upgrade hubungannya.

Pesan pribadi dari saya: tolong, jangan ada lagi yang mengalami apa yang telah kami (saya, mantan, Velin dan Bara) alami. Ciptakan saling pengertian antara kalian. Dengan begitu, saya doakan hubungan kalian sukses selama-lamanya. :-)



"Pacaran itu kan harusnya saling ngertiin dan saling kompromi." (Edo)

Tuesday, September 25, 2012

Pernah Sangat Ingin

Aku pernah sangat ingin melupakan kalian.

Karena,
Dimanapun aku berada, pikiran tentang kalian selalu melintas. Kadang singgah sebentar, kadang cukup lama. Cukup untuk membuatku kehilangan fokus dalam melakukan apapun yang sedang kukerjakan.

Karena,
Kemanapun aku memandang, selalu berharap menemukan kalian dalam jarak pandangku. Padahal itu adalah hal yang paling mustahil terjadi. Kalian dimana, kalian dimana, aku dimana.

Karena,
Kapanpun aku menghayal mencari inspirasi, hanya kalian, lagi, yang melintas di pikiranku. Sangat susah berpaling pada yang lain. Sangat susah mencari yang lain, selama kalian masih berkeliaran di hati dan pikiranku.

Takutnya,
Hidupku yang singkat ini hanya berputar pada kalian, sedang kalian tidak mengalami hal yang sama. Menyakitkan?

Makanya,
Sekali waktu, aku ingin sekali benar-benar melupakan kalian.
Mengacuhkan kalian.
Menganggap kalian tidak pernah ada.
Agar aku juga bisa menjalani kehidupanku, seperti kalian menjalani kehidupan normal kalian tanpa aku.

Ya,
Normal, kan?

Pun jika pada akhirnya tidak bisa (atau tidak ingin bisa...)

Yah... Berdoa sajalah, semoga dapat normal seperti kalian.

Normal, kan?

Monday, June 25, 2012

Padahal Hanya Dalam Dunia Mimpi, Tapi...

Mimpi itu... terasa begitu nyata.
Aku senang bisa mendapatkan mimpi semacam itu. Berharap semuanya bisa terjadi di dunia nyata.
Aku senang ada kamu dalam mimpiku. Kamu, yang sukses membuatku kerap kali merasa bersalah tiap selesai mengenangmu.
Dalam mimpiku yang singkat itu, kau dan aku bertemu kembali. Kita duduk di satu ruangan. Kau duduk di belakangku. Apa aku berani menyapamu saat itu?
Tidak.
Saat menoleh ke belakang pun, aku terlalu takut untuk melihat ke arahmu. Terlalu grogi. Terlalu takut menghadapi kamu, dan segala kemungkinan kau akan bersikap seperti apa padaku.
Nyatanya, di mimpi itu ketakutanku sangat berlebihan. Ya... seperti di dunia nyata ini.
Nyatanya, sikapmu biasa-biasa saja. Bahkan saat di mimpi aneh itu aku minta orang yang duduk di sebelahmu untuk membuat dasi -tanpa aku meminta padamu- dengan gayamu yang khas kamu berkata, "Makanya, coba belajar pake dasi sendiri!"
Menghadapi ketenanganmu, walau hanya dalam mimpi, aku tetap saja merasa segan untuk berkomunikasi denganmu :'(
Sampai akhirnya, dalam mimpi itu, tiba-tiba aku lari. Kemudian diam. Termenung. Seperti orang yang hilang kesadaran. Itu wujud ketakutanku menghadapi kamu, apa kau tahu?
Itu hanya mimpi, tapi ternyata sampai sebegitunya aku padamu :'(
Dan ketika aku kembali lagi, seluruh badanku menggigil seperti orang yang terserang flu hebat. Kamu bertanya, "Kamu baik-baik aja?" dan aku hanya menjawab, "Iya, ini cuma flu aja..."
Nyatanya bukan karna aku flu. Dan kamu bisa membaca keanehan sikapku. Seperti peramal, kamu pintar sekali menebak, "Kamu gak sakit. Kamu kenapa?"
Aku gak bisa jawab. Padahal itu hanya mimpi. Yang ada, gemetarku semakin hebat, membuat kau dan beberapa teman kita yang ada disana menjadi khawatir.
Aku tegaskan lagi, ya... Ini hanya dalam mimpi. Namun untuk menghadapimu saja aku sampai seperti itu.
Seperti apa? Aku tidak sanggup berkata-kata. Aku hanya bisa menangis dalam keadaan seperti itu, seperti kehilangan kesadaran. Kata-kata yang bisa keluar dari mulutku hanyalah, "Maaf... Maafin aku..."
Itu hanya mimpi, tapi bahkan perasaan merana itu terasa sangat nyata.
Kamu tahu? Disana kamu mengelus puncak kepalaku, dengan tenang kamu berujar, "Iya, aku maafin kamu..."
Kamu tahu? Aku senang telah mendapatkan maaf darimu, walau hanya di alam mimpi.
Kamu tahu? Mimpi itu membuatku sedikit lega, dan membuatku berharap agar bisa mendengar kata-kata itu di dunia nyata. Selain maaf darimu.
Kata-kata yang mana?
Kata-kata yang ini, merupakan kalimat terakhir di mimpi indahku, yang menurutku merupakan kalimat termanis yang pernah kamu ucapkan. Kira-kira seperti ini:
"Kamu masih mendapatkan rasa sayangku, kok. Nah, sekarang aku shalat dulu, ya. Supaya juga mendapatkan sayang dari Allah."
 Dalam keterdiamanku, dalam penyesalanku, dan kamu berkata seperti itu. Meskipun hanya sebatas mimpi, tapi... Wanita mana yang tidak merasa bahagia saat mendengarnya?

Wednesday, June 13, 2012

Ada Apa dengan Asian Kung-Fu Generation

Kenapa harus AKG?

Daritadi udah nge-post beberapa lirik dari lagu-lagunya Asian Kung-Fu Generation, sebuah band rock asal Jepang. Lirik-lirik itu merupakan lirik dari lagu-lagunya AKG yang paling saya suka. Hmm... di samping karena liriknya yang emang bagus, musiknya emang enak didengar, sih. Oh, sudahlah... Saya bukan orang yang pintar menilai tentang musikalitas suatu band atau apapun itu. Yang penting musiknya enak didengar, liriknya oke punya, yaa itu bikin saya jatuh hati. Hahahahaa..

Trus, kenapa harus AKG?

Well... Jujur aja, sebelumnya saya sama sekali gak tau dengan band yang satu ini. Dari luar negeri, pula. Jangankan untuk perhatian sama band-band luar negeri, sama yang dari dalam negeri sendiri aja sebenarnya saya ga begitu hapal. Iya, saya emang orangnya gak terlalu menaruh perhatian lebih pada hal apapun. Saya gak punya idola yang benar-benar digandrungi, sampe mengoleksi segala macam barang dan informasi tentang sang idola. Hahaha.. saya gak pernah punya idola yang sampe segitunya. Suka ya, suka aja.

Trus, kenapa harus AKG?

Ini... Harus banget dijawab, ya? (situ sendiri yang bikin pertanyaan, situ sendiri yang malah nanya balik -____-)
Hahahaha... Kenapa harus AKG? Kenapa enggak? Emang kenapa dengan AKG? Emang masalah kalo malam ini membahas tentang AKG? Saya cuma lagi mengingat-ingat sosok yang mengenalkan saya pada grup band ini, yang mengirimkan saya disk yang isinya lagu-lagu AKG, banyaaak banget. Yang pada awalnya saya dengerin, sebenarnya kurang tertarik. Makin kesini, makin didenger-denger, ternyata ada beberapa lagu yang emang musiknya bagus. Artikulasi vokalisnya pas nyanyi juga lucu. Makanya saya suka AKG.

Trus, kenapa harus AKG?

Lah, kan tadi udah dibilangin kalo saya sedang mengingat-ingat sosok yang mengenalkan saya pada grup band ini. Hahahaha... Rada curhat deh, ya. Sekali lagi aja deh, gapapa...
Saya itu... Senang mengingat hal-hal indah yang pernah terjadi dalam hidup. Walaupun ada kenangan buruk yang juga menyertai keindahan tersebut, tapi saya berusaha menepis ingatan tentang yang buruk-buruk itu ketika sedang mengenang hal-hal indah. Dari AKG ini, saya ingat kalo dulu pernah diajarin untuk bisa membaca huruf-huruf Jepang dari lirik lagu AKG yang ditulis dalam huruf Jepang. Saya ingat bagaimana dulu saya mencoba membaca huruf-huruf tersebut, kemudian mencari artinya di kamus. Dari AKG, dan dari sosok yang mengenalkan saya pada AKG itulah saya jadi belajar banyak tentang huruf-huruf Jepang (Yah, sekarang sih udah berenti belajar... Vakum dulu gara-gara kejadian buruk yang mengiringi hubungan indah saya dan sosok itu, hiks...)

Trus, kenapa harus AKG?

Ah, ditanya lagi... Hahahha..
Saya itu kalo galau, atau lagi dalam keadaan sesedih apapun, jarang sekali (bahkan gak pernah) yang namanya menangis. Oke, silakan aja bilang kalo hati saya sekeras batu, atau mungkin lupa dengan cara menangis.Saya lebih bisa nangis gara-gara jatuh dan lutut saya berdarah, daripada nangis gara-gara keingetan sama mantan. Ngenes banget, ya?
Menurut saya sih, ekspresi kesedihan itu gak selamanya harus diungkapkan dengan airmata. Kamu gak harus menangis untuk menunjukkan bahwa kamu sedang bersedih. Sikap non verbal terkadang memberikan pengertian yang lebih dalam daripada airmata, atau bahkan kata-kata.
Katakanlah, seperti saya yang sekarang ini. Kurang ngenes apa sih sebenernya, tiap hari kerjanya selalu mengenang semua kenangan indah, padahal kejadian buruk yang menimpa hubungan kami harusnya bisa membuat saya melupakan semua itu. Tapi, saya terlalu terbuai dengan keindahan sehingga benar-benar menampik semua kenyataan pahit. Masa bodo kalo sekarang kami putus, selama saya masih bisa bersenang-senang dengan keindahan itu.
Saya sadar, banget, kalo sikap saya ini bener-bener konyol. bodoh, ngenes. Tapi... Selama bisa memberikan saya kebahagiaan (walaupun semu, sangat semu), kenapa enggak? Dan... AKG adalah band yang sempurna mengingatkan saya pada kenangan indah di masa lalu.

Itulah alasannya kenapa harus AKG. :-)

Sebagai penutup, nih saya tunjukin lirik salah satu lagunya Asian Kung-Fu Generation yang judulnya Kamakura Goodbye. Lagu inilah yang saya maksudkan di atas, yang saya cari-cari cara bacanya, yang saya terjemahin sampe puyeng. (Padahal mah, kalo dulu saya cerdik, saya bisa aja tanya mbah google dan bisa nemuin itu semua di web-nya AKG. Ckckck... betapa polosnya saya. Hahahaha...)

Kamakura Goodbye
Kuridasu hito ga afureru toori kara

Hazureta roji ga temaneku you datta na
Nakidasu kimi wa taifuu no you datta na

Hashiridasu toki wa itsudemo kyuu datta na

Ame no hi ni wa kasa ni narou
Kimi ga hitori nurenai youni
Hareta gogo wa umi e ikou
Kaze ga hakobu yume

Konna hibi ga tsuzuku you na hiyouri
Tooriame ga furidashite mo
Soredemo kimi ga warau youni

Gogo ga kuta yo
Sayonara  Tabi no hito

Kaze no hi ni wa hata ni narou
Kimi ga miushina wa nai youni
Hareta yoru wa hoshi wo miyou
Kaze ga soyogu yuube

Konna hibi ga tsuzuku you na hiyori
Demosa  Kyou wa owarundayo
Soredemo kimi ga warau youni

Yoru ga kuta yo
Sayonara  Tabi no hito

(kalo diartikan dalam bahasa inggris)
Of a street overflowing with people
Is a backstreet alley that seemed to call out
You started crying like a typhoon
Always one to make a sudden move


Let me be your umbrella when it rains 
So that you won't be the only one wet 
Let's go down to the ocean on a sunny afternoon 
A dream carried here by the wind


Feels like days like these will continue 
Even if we're caught in a sudden shower 
I'll do what I can to make you laugh


The afternoon's here 
Goodbye, traveler


Let me be your flag on windy days 
So you won't lose sight 
Let's look at the stars on a clear night 
A breezy evening


Feels like days like these will continue 
You know, today will eventually end 
I'll do what I can to make you laugh


Night's here 
Goodbye, traveler

Tuesday, May 22, 2012

Tembok Itu Bernama... Apa?

Mungkin, inilah kelemahan terbesar saya:
Saya bukanlah orang yang penuh dengan percaya diri, terutama untuk mempublikasikan sesuatu yang merupakan hasil bikinan saya sendiri.
Terlalu banyak faktor yang membuat saya memasang sebuah tembok tak kasat mata terhadap diri saya sendiri, untuk membentengi diri saya dari hal-hal yang mungkin bisa mengecewakan saya
Padahal saya ingin sekali mengembangkan suatu ha yang mati-matian saya bentengi tersebut
Apa sih, yang saya butuhkan? Apa yang saya cari? Apa yang bisa membuat saya cukup yakin dan percaya diri hingga akhirnya sanggup meruntuhkan tembok tersebut?
Pembuktian? Pengakuan?
Atau tembok itu sebenarnya merupakan suatu bentuk kepengecutan saya yang tak pernah siap menghadapi kritikan?
Apapun itu, entahlah...

Saturday, March 24, 2012

(no mention)

Ada yang berbeda.
Aku merasa seperti tidak mengenalmu lagi. Siapa yang di seberang sana? Apa itu bukan kamu? Apa itu orang lain?Rasanya seperti bukan berbicara denganmu, Sayang...
Apa itu hanya perasaanku saja? Karena kita sudah sejak lama tak saling bicara. Bertahun-tahun tak pernah saling tatap, tak pernah mendengar suara masing-masing. Bertahun-tahun tak pernah mengenali gerakan khasmu seperti apa, cara berjalanmu, caramu tersenyum, caramu berbicara, pola pikirmu... Bertahun-tahun terlewati tanpa itu semua.
Apa itu semua lantas membuatku sempurna tidak dapat mengenalimu lagi? Apalagi kita hidup dalam "dunia" yang sangat jauh berbeda, sehingga semuanya dengan cepat bisa berubah. Karena manusia pasti selalu berubah.
Perubahan-perubahan ini mungkin tidak berpengaruh apapun dalam hubungan kita, yang sejak semula memang tidak ada awal yang dapat diakhiri. Tidak ada pengungkapan yang membuat semuanya terlihat jelas. Tidak ada komunikasi apapun, mengenai "kita". Karena sejak awal, "kita" hanya ada dalam hati dan pikiranku saja. Tidak oleh kamu.


Sunday, March 18, 2012

Lingkungan Kerja

"Lingkungan kerja yang nyaman adalah lingkungan dimana orang-orangnya bersikap sangat ramah, bersahabat, dan tercipta saling pngertian antarindividu."
 Ketika kamu bekerja di lingkungan tersebut, semangatmu naik. Kamu dapat bekerja dengan maksimal. Kamu bisa mengeluarkan seluruh kemampuan terbaikmu. Dan kamu sangat menikmati itu semua, tanpa pernah terlintas untuk mengeluh.

Tapi, jangan terlena dengan perasaan nyaman tersebut. Bisa jadi, ketika ada satu hal kecil yang tidak sesuai dengan ekspektasimu, hal kecil tersebut bisa membuat semangatmu mengendur. Kualitas kerjamu menurun. Dan muncullah rasa malas dalam diri kamu.

Maka, kamu harus belajar untuk menyesuaikan diri dengan segala kondisi lingkungan. Harus bisa bekerja dengan berbagai tipe karakter orang. Dan, harus tahan banting :)

Wednesday, March 7, 2012

Untuk Ibu, Bapak, dan Adik-adikku yang Lucu

Ibu dan Bapak, juga dua adikku yang lucu...

Apa kabar kalian disana? Ada yang merindukan Putri, tidak?
Kalau Putri sih, rindu. Sangat rindu.
Bahkan rasa rindu ini berubah menjadi perasaan iri.
Di setiap kali melihat kalian bersama. Di saat mengetahui bahwa kalian sedang makan bersama. Nonton bersama. Tidur bersama.
Jalan-jalan tanpa Putri. Berfoto tanpa Putri. Membayangkan kalian tertawa tanpa Putri.
Shalat berjamaah tanpa Putri. Jajan tanpa Putri. Bernyanyi tanpa Putri. Belajar tanpa Putri.
Dan masih banyak hal-hal lain yang kalian lakukan tanpa Putri.
Setiap membayangkannya, atau bahkan mengetahuinya, semuanya membuat Putri rindu. Sangat, sangat rindu.
Hingga menjadi iri. Iri pada angin, iri pada jarak, iri pada orang lain, dan... iri pada kebersamaan kalian.


Ibu, Bapak, dan adik-adikku yang lucu...


Putri sedang sangat malas melakukan aktivitas. Apapun. Bahkan malas kuliah.
Minggu ini saja, sudah dua kali Putri datang sangat telat (walau dosennya tetap lebih telat daripada Putri), malas mandi, malas segera tidur kalau belum melihat jarum jam menunjuk pukul tiga pagi.
Malas-malasan mengerjakan tugas, malas-malasan dimintai tolong, malas-malasan menghadiri suatu rapat, malas-malasan ... segalanya.


Ibu, Bapak, dan dua adikku yang lucu...


Putri boleh tidak, minta untuk pulang ke rumah?
Seminggu saja.... Hanya seminggu.
Cukuplah untuk membunuh rasa iri yang sangat akut ini.
Cukuplah untuk membangkitkan semangat Putri lagi.
Cukuplah, walau hanya seminggu...