Pages

Monday, August 6, 2012

Hai

Hai, aku adalah CLBK, cinta lama-mu yang belum kelar. Namun aku hanya bisa menunggumu yang memulai kembali segalanya, karna masaku untuk selalu menjadi yang pertama dalam berjuang telah usai. Namun nanti, jika kita bersama lagi, akan kupastikan bahwa aku akan kembali menjadi pioneer dalam segala pembaharuan dalam hubungan kita. Agar kita tak jatuh pada kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya. Oke, selamat beristirahat:-)

Monday, June 25, 2012

Padahal Hanya Dalam Dunia Mimpi, Tapi...

Mimpi itu... terasa begitu nyata.
Aku senang bisa mendapatkan mimpi semacam itu. Berharap semuanya bisa terjadi di dunia nyata.
Aku senang ada kamu dalam mimpiku. Kamu, yang sukses membuatku kerap kali merasa bersalah tiap selesai mengenangmu.
Dalam mimpiku yang singkat itu, kau dan aku bertemu kembali. Kita duduk di satu ruangan. Kau duduk di belakangku. Apa aku berani menyapamu saat itu?
Tidak.
Saat menoleh ke belakang pun, aku terlalu takut untuk melihat ke arahmu. Terlalu grogi. Terlalu takut menghadapi kamu, dan segala kemungkinan kau akan bersikap seperti apa padaku.
Nyatanya, di mimpi itu ketakutanku sangat berlebihan. Ya... seperti di dunia nyata ini.
Nyatanya, sikapmu biasa-biasa saja. Bahkan saat di mimpi aneh itu aku minta orang yang duduk di sebelahmu untuk membuat dasi -tanpa aku meminta padamu- dengan gayamu yang khas kamu berkata, "Makanya, coba belajar pake dasi sendiri!"
Menghadapi ketenanganmu, walau hanya dalam mimpi, aku tetap saja merasa segan untuk berkomunikasi denganmu :'(
Sampai akhirnya, dalam mimpi itu, tiba-tiba aku lari. Kemudian diam. Termenung. Seperti orang yang hilang kesadaran. Itu wujud ketakutanku menghadapi kamu, apa kau tahu?
Itu hanya mimpi, tapi ternyata sampai sebegitunya aku padamu :'(
Dan ketika aku kembali lagi, seluruh badanku menggigil seperti orang yang terserang flu hebat. Kamu bertanya, "Kamu baik-baik aja?" dan aku hanya menjawab, "Iya, ini cuma flu aja..."
Nyatanya bukan karna aku flu. Dan kamu bisa membaca keanehan sikapku. Seperti peramal, kamu pintar sekali menebak, "Kamu gak sakit. Kamu kenapa?"
Aku gak bisa jawab. Padahal itu hanya mimpi. Yang ada, gemetarku semakin hebat, membuat kau dan beberapa teman kita yang ada disana menjadi khawatir.
Aku tegaskan lagi, ya... Ini hanya dalam mimpi. Namun untuk menghadapimu saja aku sampai seperti itu.
Seperti apa? Aku tidak sanggup berkata-kata. Aku hanya bisa menangis dalam keadaan seperti itu, seperti kehilangan kesadaran. Kata-kata yang bisa keluar dari mulutku hanyalah, "Maaf... Maafin aku..."
Itu hanya mimpi, tapi bahkan perasaan merana itu terasa sangat nyata.
Kamu tahu? Disana kamu mengelus puncak kepalaku, dengan tenang kamu berujar, "Iya, aku maafin kamu..."
Kamu tahu? Aku senang telah mendapatkan maaf darimu, walau hanya di alam mimpi.
Kamu tahu? Mimpi itu membuatku sedikit lega, dan membuatku berharap agar bisa mendengar kata-kata itu di dunia nyata. Selain maaf darimu.
Kata-kata yang mana?
Kata-kata yang ini, merupakan kalimat terakhir di mimpi indahku, yang menurutku merupakan kalimat termanis yang pernah kamu ucapkan. Kira-kira seperti ini:
"Kamu masih mendapatkan rasa sayangku, kok. Nah, sekarang aku shalat dulu, ya. Supaya juga mendapatkan sayang dari Allah."
 Dalam keterdiamanku, dalam penyesalanku, dan kamu berkata seperti itu. Meskipun hanya sebatas mimpi, tapi... Wanita mana yang tidak merasa bahagia saat mendengarnya?

Thursday, June 21, 2012

Ipang - Tentang Cinta

Sekilas tentang dirimu yang lama ku nanti
Memikat hatiku, jumpamu pertama kali
Janji yang telah terucap tuk satukan hati kita
Namun tak pernah terjadi...

Mungkinkah masih ada waktu yang tersisa untukku?
Mungkinkah masih ada cinta di hatimu?
Andaikan saja aku tau kau tak hadirkan cintamu
Ingin ku melepasmu dengan pelukan...

Sesal yang datang slalu takkan membuatmu kembali
Maafkan aku yang tak pernah tahu
Hingga semuanya pun kini tlah berlalu
Maafkan aku...

Lagu itu... Kamu ingat? Kamu pernah memainkan intro lagu itu dengan gitarmu...

Kamu tau? Lagu ini memang bercerita tentang aku, perasaanku padamu.

Kamu tau? Saat ini, bukan masalah apakah aku bisa kembali memenangkan hatimu. Kuserahkan semuanya pada takdir, seperti apa skenarionya terhadap kisah kita di masa depan.

Kamu tau? Ini semua memang tentang cinta...

Tentang 20 Juni

Hmmm... Seharusnya, hari ini menjadi hari yang spesial. Seharusnya, sih. Kalau saja semua berjalan baik-baik saja, adem ayem, tenang, tenteram, damai.

Nyatanya kan, tidak seperti itu. Hmmm...

Ya sudahlah, sudah menjadi sejarah. Sepertinya memang sejarah, yang gak bakal bisa terulang, atau dicoba untuk diulang. Ah, bahasanya semrawut banget.

Masih ingat kan, bagaimana saya hobi banget mengingat hal-hal yang seharusnya gak usah diingat-ingat lagi? Bagaimana saya begitu suka membiarkan imajinasi saya menari-nari terhadap segala kenangan indah di masalalu? Dan itu termasuk mengingat apa yang pernah terjadi di tanggal 20 juni.

Tiga tahun silam, sebelumnya, saya hanyalah seorang gadis kecil yang pada akhirnya terbiasa memaklumi diri sendiri yang selalu merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Selalu. Saya terbiasa mengagumi seseorang, menyukai seseorang, namun hanya sebatas itu. Hanya sebatas mengamati dari jauh, tanpa pernah bertindak lebih, berusaha lebih, apalagi mengharap lebih. Bagi saya, bisa ngobrol dengan bebas dan lepas aja sudah sesuatu yang patut disyukuri. Kalo saya menginginkan hal lebih, rasanya egois banget dan gak pantes banget. Lagipula, pikiran saya terlalu jauh ke depan kalo harus sampe merasa perlu memperjuangkan perasaan saya.

Dulu, di jaman cinta monyet banyaak bersemi di hati teman-teman SD dan teman-teman SMP, memang di awal mereka keliatan seneeeng banget. Selalu menceritakan kebaikan pacarnya, memuji, telponan, sms-an gak kenal waktu, dan seluruh waktunya hanya tercurah untuk pacar. Tapi... setelah mereka putus? Liat aja, kebanyakan langsung berubah benci. Pujian berubah menjadi makian. Intensitas komunikasi langsung nol. Dari pasangan yang kemana-mana selalu bersama, berubah menjadi pribadi yang seakan tak pernah saling kenal.

Itu yang saya takutkan pada saat itu. Saya takut, banget, kalo misalnya saya mengalami hal yang serupa. Boro-boro harus sampe setelah jadian kemudian putus baru merasakan hal itu. Saya bahkan sering takut gebetan saya di masalalu menjauhi saya gara-gara tau perasaan saya ke dia seperti apa. Hiks. Ngenes banget, yaa... :-(

Bahkan sampai tiga tahun yang lalu, saya masih gak bisa percaya kalo orang yang diam-diam saya taksir bisa membalas perasaan saya, setelah melalui proses yang sangat panjang. Rasanya setelah gebetan tau tentang perasaan kita padanya dan dia gak menjauhi kita tapi malah menanggapinya dengan santai itu... menyenangkan. Bahkan dia bisa bikin saya gak harus merasa canggung untuk bertingkah dan berkata apa saja padanya. Pun ketika jadian. Yang menyedihkan justru karena kondisi setelah putus hubungan dengannya, itu sama persis dengan pengalaman teman-teman saya dulu. Hal yang saya takutkan benar-benar terjadi. Yang mana...

Setelah putus, putuslah semua hubungan, apalagi komunikasi. Itupun ketika untuk pertama kalinya saya berani mengakhiri hubungan kami, padahal semua orang tau banget sedalam apa perasaan saya untuk dirinya. Dan, ketika saya pada akhirnya tidak berhasil membawa dia kembali lagi, apalagi setelah mendapat pernyataan darinya kalo dia udah mati rasa terhadap apapun mengenai saya, udah gak ada sedikitpun rasa di hatinya untuk saya, saya cukup tau diri untuk... menjauh. Untuk tidak lagi mencoba menarik perhatiannya, atau curhat-curhat gak penting padanya. Saya menarik diri. Dia pun sepertinya begitu. Tau gimana rasanya? Menyedihkan.

Saya sakit, banget. Dia juga pasti merasa sangat sakit. Putusnya hubungan itu merupakan akumulasi dari kesalahan-kesalahan bersama, bukan hanya saya, bukan hanya dia, tapi kami. Dan yang paling saya sesali dari semua ini... Saya kehilangan bukan hanya seorang pacar, tapi juga teman, sahabat, tempat curhat, pemberi nasihat. Saya kehilangan seseorang yang mahal sekali.

Setiap mengingat 20 juni, atau hal indah lain tentang dirinya, saya sering berpikir... Apa dia juga mengenang semuanya? Apa dia bahagia? Apa pernah terlintas di pikirannya untuk kembali merasakan keindahan itu? Andai saya bisa tau keadaannya...

Satu yang pasti: Setiap saya mengenangnya, atau melihatnya di halaman social media, saya hanya berharap bisa langsung mengucapkan maaf di hadapannya. Bisa kembali akrab dengannya seperti di masalalu, saat interaksi di antara kami belum tercemar oleh rasa cinta.

Maaf...
Maaf...
Maaf...
Maaf...
Maaf...

Saturday, June 16, 2012

#jleb

#jleb adalah
ketika kamu menyadari bahwa sifat ke-GR-anmu itu ternyata sangat akut
ketika membaca sesuatu yang jelas-jelas bukan ditujukan untuk kamu, tapi alam bawah sadarmu membangun mindset kalo semuanya ditujukan untukmu

#jleb adalah
ketika kamu melihat semua orang memamerkan kemesraan mereka dengan pasangannya di depan matamu, sementara kamu hanya bisa bermesraan dengan kenangan indah yang terlalu semu untuk dialami kembali

#jleb adalah
ketika kamu sibuk galau untuk sesuatu ataupun seseorang yang abstrak!!