Pages

Monday, May 23, 2016

Kenapa Bisa Suka?

Hari ini ke Gramedia Merdeka. Entah kenapa kaki langsung menuju bagian sastra duluan dan bukannya naik ke lantai khusus novel. Akhir-akhir ini lagi suka banget sama puisi, menikmati baca puisi, dan masih tetap payah dalam menulis puisi, hiks. Dari sastra, mampir ke customer service buat cek poin. Ah, udah bisa tukar voucher belanja! Lumayan, bisa beli satu buku tanpa keluar duit hohohoo. Trus makan. Trus baru balik ke kosan dan membongkar buku yang dibeli.

Ritualnya:
1. Meraba buku baik-baik, mengagumi setiap lekuknya. Membaca ulang blurbnya. Berulang-ulang,

Sunday, May 22, 2016

Pernah Nggak, Sih?

Pernah nggak sih, kalian punya perasaan menyesal setelah melakukan sesuatu yang kalian sukai?

Merutuki diri sendiri akan hasilnya. Merasa tidak puas. Merasa bahwa apa yang kalian kerjakan adalah sampah. Padahal selama ini, kalian selalu menyukainya. Begitu memujanya. Hobi. Kesayangan. Tapi selalu dikutuksumpahi setelah selesai dilakukan. Tanpa benar-benar tahu alasannya. Mungkin karena tidak puas dengan hasilnya. Atau mungkin karena lingkungan. Atau... entahlah.

Pernah nggak sih?

Kalau aku, pernah. Bahkan sedang merasakannya.

Friday, May 20, 2016

Dongeng Sebelum Tidur

Akhir-akhir ini, indonesia dihebohkan dengan begitu banyak topik. Ya perkosaan, ya masalah partai, ya terorisme, ya kiri-kiri. Rame, deh.

Semua pemberitaan itu—yang sengaja tidak kuikuti untuk melindungi otak dari pikiran-pikiran negatif—entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja bikin teringat sama orang yang suka banget dengan topik ini. Apalagi masalah kiri-kanan.

Jujur, Polos, Sederhana dan Apa Adanya

"Kadang-kadang, kau pikir, lebih mudah mencintai semua orang daripada melupakan satu orang. Jika ada seorang telanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan."

Aan Mansyur - Pukul 4 Pagi dalam "Tidak Ada New York Hari Ini"

Thursday, May 19, 2016

Sepotong Kisah yang (Baiknya) Disembunyikan

Ruang keluarga rumahku di malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, diramaikan oleh suara dari televisi yang menayangkan sinetron kesukaan sulungku. Dasar, jiwa remaja. Matanya selalu membulat penuh fokus ketika artis favoritnya muncul. Aku sangsi anakku mengikuti jalan ceritanya—atau dia memekik karena sang artis dan jalan cerita klise itu? Entahlah.

Sementara putriku sibuk menonton, aku sibuk dengan ponsel pintar—mengecek jam terakhir suamiku melihat whatsapp. Suamiku sedang dinas ke luar kota dan baru pulang besok pagi dengan penerbangan pertama. Sekarang sudah hampir jam 10 malam dan sudah 2 jam suamiku tidak mengecek ponselnya.